Langsung ke konten utama

Percaya Penuh kepada-NYA


Percaya Penuh Kepada-Nya




Dalam doktrin akidah ukhti Muslimah telah mengetahui dengan jelas bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Memenuhi janji-Nya, tidak akan menzalimi hamba-hamba-Nya, dan hal-hal semisalnya. Pada waktu yang bersamaan Allah telah menunjukkan Allah telah menunjukkan sifat kemahakuasaan-Nya menciptakan segala sesuatu , baik yang terhampar di alam fisik ini maupun yang ada dalam kalbu, juga yang gaib. Jadi ukhti Muslimah –dan semua hamba Allah—yakin sepenuhnya bahwa Allah Swt. sanggup memenuhi janji-janji itu dengan mudahnya.

Karena itulah ukhti harus tsiqah atau percaya sepenuhnya atas semua janji yang difirmankan-Nya. Mengapa? Karena kepercayaan akan melahirkan motivasi dan kekuatan sekaligus.

Seseorang yang tidak percaya bahwa bisnisnya akan berhasil maka dia tidak termotivasi untuk melanjutkannya. Namun jika dia percaya penuh dan ada jaminan kesuksesan maka jalan apa pun akan ditempuh dengan segenap kekuatannya dalam rangka meraih sukses itu.

Percaya kepada Allah Swt. berarti percaya kepada janji-janji akan pertolongan dan pahala-Nya. Allah Swt. pasti akan menolong hamba-Nya yang beriman.
Allah Swt. telah berfirman, dalam Q.S. Ar-Rum: 47 yang artinya “... Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.”

Allah Swt. juga akan memberikan pahala yang besar bagi mereka yang berjuang di jalan-Nya.

Seorang Muslimah yang percaya akan pertolongan dan pahala Allah Swt. akan menjadi orang yang pemberani dan pantang menyerah dala berjuang. Dia senantiasa bersabar menunggu kebenaran janji Allah dan yakin bahwa Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya.

Allah Swt. berfirman, dalam Q.S. Ar-Rum: 60 yang artinya “Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.”

Perjalanan kehidupan akhawat Muslimah, sebagaimana manusia umumnya, pasti sangat berliku. Ada kalanya kebahagiaan datang hingga senyum pun tersungging, ada kalanya persoalan datang yang membuat dahi senantiasa berkerut, ada pula saatnya musibah berat demikian berat menghimpit hingga seolah menemui jalan buntu untuk menyelesaikannya. Demikian juga dalam perjuangan dakwah. Ada kalanya orang berbondong-bondong menyambut seruan dakwah kita, namun ada saatnya kita mendapati tantangan yang sulit dipecahkan. Semua adalah dinamika kehidupan yang mesti dihadapi.

Manusia beriman, para ukhti Muslimah, tentu boleh cemas menghadapi semua itu. Percayalah bahwa semua persoalan ada penyelesaiannya. Kepercayaan yang penuh (tsiqah kamilah) kepada Allah sangat dibutuhkan dalam mengarungi semua persoalan hidup ini.

Kaidahnya adalah: semua persoalan ada jawabannya. Jika dengan suatu cara tidak terpecahkan maka mungkin dengan cara yang lain. Jika hari ini belum juga terselesaikan mungkin esok atau lusa terpecahkan. Jika pun telah sepuluh kali dicoba belum berhasil, maka mudah-mudahan kali ke sebelasnya sukses. Jika pun semua pengorbanantelah dipersembahkan dan usaha sudah maksimal dikerahkan namun juga belum mendapatkan hasil, maka yakinlah Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan amalan hamba-Nya yang beriman. Jika di dunia tidak mendapatkan maka kita masih memiliki harapan akhirat.

Itulah hakikat tsiqah, dan ukhti Muslimah harus memilikinya.


Dikutip dari Buku berjudul “Keakhawatan 1 ‘Bersama Tarbiyah Ukhti Muslimah Tunaikan Amanah”,
Halaman 77-79 yang ditulis oleh Cahyadi Takariawan, dkk, Solo: PT. Era Adicitra Intermedia, Maret 2011.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi

PEMBAHASAN Pendahuluan Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan A.     Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi Memang tidak semua orang menyadari bahwa setiap saat kita selalu melakukan pekerjaan evaluasi. Dalam beberapa kegiatan sehari-hari, kita jelas-jelas mengadakan pengukuran dan penilaian.             Dari dua kalimat di atas kita sudah menemui tiga buah istilah, yaitu evaluasi, pengukuran, dan penilaian. Sementara orang memang lebih cenderung mengartikan ketiga kata tersebut sebagai suatu pengertian yang sama sehingga dalam penggunaannya hanya tergantung dari kata mana yang siap untuk diucapkannya dan sementara orang yang lainnya membedakan ketiga istilah tersebut.             Dan untuk memahami apa persamaan, perbedaan, ataupun hubungan antara ketiganya, dapat dipahami melalui contoh-contoh di bawah ini: a.       Apa...

Rinduku Lumpuh

gak nyangka, ditengah kumemikirkan bagaimana menjawab soal-soal matematika adekku malam ini..  1 2 3 4 5 6 7 mereka berbondong-bondong smsin aku, "Mb uci, nyebelin! Tp ngangenin... #sayang mb uci..^^" Yaelah.. idenya siapa ini, menggemaskan :') aku gak ngerti kudu kujawab apa, tapi gak njawab juga jawaban bukan? *maksa, haha aku juga sayang kalian :-) rindu kalian,. tapi, aku.. layaknya rembulan di malam lebaran.. itu yang kurasakan.. maaf sinarku dikekang begitu kuatnya.. dan rinduku lumpuh di langit.. aku sakit di sini. .:BMW Al Huda:.

,,bin ich hübsch?”

Das R ä tsel Ich bin ein wichtiges Ding. Ich werde von jedem Menschen jeden Tag gebraucht, Obwohl meine Gestalt ist schlicht. Ich habe verschidene Form; Viereck, Dreieck, rund, oval, usw. Morgens Menschen suchen mich. Sie erkundigen sich nach mich ü ber sie selbst. Alle Frauen mag mich betrachten. Sie bringen mich ü berallhin. Alle Frauen auch erkundigen sich nach mich ü ber sie selbst, ,,bin ich h ü bsch?” Wer bin ich?