Biji
yang Terbuang
Oleh: Lusya Uci Wardati
Ketika pohon kecil dan perlahan menjadi dewasa,
kemudian daunnya yang semakin rindang dan lagi membuahkan buahnya. Tak peduli
pohon apapun itu, tapi buahlah yang selalu kita rindukan. Dia berikan yang
terbaik. Dan mudah bagi kita untuk menikmatinya. Buah itu dari sebuah pohon.
Pohon yang pernah kecil, pernah terinjak-injak oleh kita tanpa kita sadar.
Pohon yang pernah kita tebang cabangnya, bahkan mungkin kita robohkan karena
lama tak berbuah tapi ia bangkit lagi.
Pohon itu ingin tumbuh. Tumbuh menjadi yang lebih
baik. “Mengapa mereka tak mendukungku?”, bisiknya pada rerumputan di
sekitarnya, mengeluhkan mereka yang menginjaknya. “Terus saja kalian
menghardikku, teruskan saja. Tanpa mengerti aku.”, lanjutnya.
Semua ingin menjadi lebih baik bukan? Semua ingin jadi
baik! Mengapa tak pernah untuk mengerti. Pernah lihat waria di lampu merah?
Pernah menyaksikan para pengemis di tempat umum? Pernah lihat segerombolan anak
jalanan? Atau mungkin kau pernah tau bahwa itu tempat lokalisasi dan kau lihat
banyak perempuan yang kemudian kau nilai mereka para PSK? Ahh.. mengapa,
mengapa selalu saja kau nilai mereka serendah itu, tak mau menghargai mereka,
tak mau mengerti mereka. Tak khawatirkah kalian, mereka akan makin menjadi.
Lapar. Lapar bisa buat orang menjadi kuat. Lapar bisa
membuat orang melakukan apapun untuk menghapus lapar. Lapar itu berbahaya.
Berbagilah dengan mereka. Mereka tak ingin mencelakakan orang lain, sungguh.
Hanya saja, tak ada cara lain. Kau tak mau mengerti mereka. Kau tak pernah
ingin masuk menyaksikan dunia mereka.
Berlenggak-lenggok, berdandan meriah di depan jalan
ketika lampu merah. Mereka berusaha, kalian mengabaikan. Mengacuhkannnya bahkan
mengejeknya, “ihh kok kayak gitu sih, masih muda kok malas, gak mau kerja.”
Kalian pikir mereka sedang apa? Mereka bekerja! Hanya saja tak ada pekerjaan
lain.
Melihat perempuan di daerah lokalisasi? “Mereka pasti
orang-orang PSK.” Belum tentu! Kalian pikir itu pilihan, mereka terpaksa.
Mereka di sini juga dapatkan penyuluhan, pelajaran-pelajaran seperti kalian.
Karena kau tahu kan, betapa beratnya hidup. Beraaaaaat sekali.... Hanya jalan
ini yang bisa mereka raih. Kalian tak tak mau mengerti. Mereka juga memimpikan
menjadi orang baik. Paling tidak, tidak merepotkan kalian lagi. Tapi mereka
telah terlanjur roboh, kalian yang merobohkan, dan tak mau membangkitkan mereka
lagi. Sejenakpun tidak untuk mengulurkan tangan kalian. Padahal mereka mau dan
bisa menjadi orang baik seperti yang kalian pikirkan. Bukankah buah yang
menyegarkan itu adalah dari biji yang pernah kau injak...
Komentar
This article has truly peaked my interest. I'm going to book mark your site and keep checking for new information about once per week. I subscribed to your Feed too.
My web site - more tips here