*Yuk, Kita Merawat Gigi Si Kecil*
Sebelum memulai materi, saya mau cerita sedikit.
Sekitar setahun yang lalu, saya memeriksa gigi seorang anak. Secara keseluruhan giginya bagus tetapi ada dua gigi di depan yang bermasalah.
Ya, giginya mulai berlubang.
“Ah, biarin aja lah. Namanya juga gigi susu. Nanti juga akan diganti sama gigi dewasa. Jadi kalau sekarang berlubang ya gapapa lah.”
Begitu kata orangtua dari anak tersebut.
Apa benar tidak apa apa kalau gigi anak berlubang? Toh diganti dengan gigi dewasa ini.
Karies
Karies gigi merupakan penyakit pada jaringan gigi yang diawali dengan terjadinya kerusakan jaringan atau lebih dikenal dengan lubang gigi.
Karies bisa terjadi karena ada kuman, sisa makanan yang tidak dibersihkan, air ludah dan waktu. Karies gigi yang dibiarkan lama kelamaan akan bertambah besar apalagi jika ditambah dengan kebiasaan buruk yaitu tidak menyikat gigi.
Jadi karies bisa terjadi karena ada 4 faktor tersebut.
Pengetahuan orang tua sangat penting
dalam mendasari terbentuknya perilaku yang
mendukung atau tidak mendukung kebersihan
gigi dan mulut anak. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh secara alami maupun secara terencana
yaitu melalui proses pendidikan. Orang tua
dengan pengetahuan rendah mengenai kesehatan
gigi dan mulut merupakan faktor predisposisi
dari perilaku yang tidak mendukung kesehatan
gigi dan mulut anak (Eriska, 2005)
Anak usia 2-4 tahun memiliki
kegemaran untuk makan makanan yang manis,
sedangkan orang tua kurang mempedulikan
kebiasaan untuk menyikat gigi, jika seorang anak tidak mau menggosok gigi maka sebagai orang tua sebaiknya dapat memaksa anaknya untuk
menggosok gigi terutama saat menjelang tidur
malam. Bila seorang anak tidak terbiasa
menggosok gigi maka dari kebiasaan tersebut
dapat menyebabkan anak yang mengalami
karies.
Penyebab utamanya adalah makan dan minum yang mengandung banyak gula dalam waktu lama, misalnya kebiasaan minum susu dengan botol sampai anak tertidur.
PERAN GIGI SUSU
Gigi susu memiliki fungsi yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, tidak hanya kondisi gigi geliginya kelak, namun juga kondisi anak secara keseluruhan. gigi susu memiliki fungsi penting sebagai penunjuk jalan gigi tetap/ permanen yang akan tumbuh dimana gigi permanen berada dibawah gigi susu. Setiap periode sudah tersusun untuk digantikan secara berurutan oleh gigi berikutnya. Itulah kenapa, pada periode gigi susu, pada umumnya susunan gigi anak tidak rapat, alias jarang-jarang. Kemudian sesuai dengan urutannya pada gigi seri susu akan digantikan oleh gigi seri tetap/permanen, gigi geraham susu akan digantikan pula oleh gigi geraham permanen, sedangkan dibelakang gigi geraham susu yang terakhir sudah disiapkan untuk tempat gigi geraham besar tetap yang pertama. jadi semua sudah terpola, kemana gigi permanen akan menempati posisinya masing-masing.
Pencabutan gigi susu sebelum waktunya akan mengacaukan sistem keseimbangan susunan gigi didalam mulut. Pencabutan yang terlalu awal akan menyebabkan terjadinya pergeseran posisi gigi.
Akibatnya, gigi tetap / permanen yang akan tumbuh tidak akan memperoleh ruang cukup dan akan tumbuh gigi tetap dengan susunan gigi berjejal. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Ketika dilakukan pencabutan gigi susu yang terlalu awal, tentu saja hal tersebut akan menciptakan ruang kosong pada rahang. Namun, pada saat yang sama, benih gigi permanen yang seharusnya menggantikan gigi susu yang dicabut tersebut masih belum siap untuk tumbuh. Sedangkan, pada ruang kosong tersebut terjadi proses penyembuhan pada gusi dan tulang rahang, sehingga jaringan pada daerah sana menjadi tebal. Selain itu, karena sifat gigi pada umumnya adalah mobile, artinya gigi itu terus bergerak loh bu ibu... jadi ketika ad ruang kosong di dekatnya, di dukung dengan aktifitas bicara, dan pengunyahan, gigi bisa bergeser ke arah ruang kosong tersebut.
Nah, akibatnya ruang yang seharusnya di isi oleh gigi permanen, menjadi sempit, dan ketika gigi permanen itu tumbuh, tentunya dia akan mencari tempat “baru” dengan sendirinya untuk tumbuh. Itulah mengapa, pencabutan gigi susu yang terlalu awal bisa menyebabkan gigi permanen tumbuh berjejal. Walaupun gigi berjejal sebenarnya juga bisa dikarenakan oleh faktor keturunan.
MERAWAT GIGI SUSU
Gigi susu memiliki struktur email (permukaan gigi yang paling luar) yang lebih lunak dibandingkan dengan gigi permanen. Jadi, ketika gigi susu mulai berlubang ( bisa ada semacam titik atau garis wrna coklat kehitaman) segera konsutasikan kondisi tersebut pada dokter gigi. Sebisa mungkin, jangan sampai menunggu anak mengeluh sakit terlebih dahulu, karena tingkat kooperatifnya tentunya akan menurun drastis, sehingga akan sulit untuk ditindaklanjuti. Lalu, apa yang diperlukan untuk mejaga kesehatan gigi susu?
1. Wisata dokter gigi
Hal ini penting. Lakukan kunjungan “wisata” ke dokter gigi, atau ke klinik gigi dengan tujuan bermain-main. Emang nya boleh? Boleh bangeeeettt... paling cuma di charge biaya konsultasi hihi... Hindari untuk berkunjung ke dokter gigi dengan keadaan anak sudah memiliki keluhan pada giginya. Sudah merasa sakit, atau sudah merasa goyang. Tujuannya apa? Hanya untuk mengenalkan anak dengan lingkungan dokter gigi, yang ramah, dianggap seperti tempat bermain, familiar dengan aromanya, terbiasa untuk duduk di kursi giginya, mengenal dokternya, dan lain sebagainya. Biasanya
mungkin belum tentu berhasil dalam satu kali kunjungan, tetapi butuh beberapa kali. Awalnya mungkin hanya melihat-lihat ruangan, kunjungan berikutnya mulai mau duduk di kursi giginya, tahap berikutnya sudah mau dilihat giginya dengan kaca mulut mungkin, begitu seterusnya, dan dilakukan tanpa paksaan. Hindari akan adanya trauma. Sehingga, ketika anak mulai ada keluhan pada gigi nya dan diajak untuk ”memperlihatkan” giginya ke dokter gigi, anak sudah terbiasa dan tidak takut.
2. Rawat gigi susu seperti merawat gigi permanen Hal ini juga di sesuaikan dengan kondisi anak sendiri. Kapan anak mulai diajarkan untuk menyikat gigi? Jawabnya ketika anak sudah bisa memegang dan mengendalikan sikat gigi. Silahkan ajarkan untuk menyikat gigi yang tentunya dibantu oleh orang tua dan di cek kembali kebersihannya. Kalau belum bisa? Orang tua bisa juga membantu membersihkannya dengan menggunakan kasa yang dibasahi oleh air, atau kaos anak yg lembut juga bisa diapakai sebagai pengganti kasa. Aturannya sama seperti gigi permanen, sikat gigi 2x sehari, setelah makan dan sebelum tidur. Yang paling wajib sebelum tidur.
3. Ketika gigi anak belum muncul, biasakan untuk membersihkan gusinya setelah makan atau minum susu dengan kain kasa yang dibasahi air matang dengan gerakan lembut.
4. Ganti sikat gigi 3 bulan sekali untuk menghindari pertukaran bakteri.
5. Gunakan pasta gigi khusus anak dan gunakan secukupnya Penggunaan secukupnya pasta gigi berfluoride bagi anak sangat dianjurkan untuk menghindari kelebihan kadar fluoride dalam tubuh, dan sebaiknya diberikan pada usia ≥ 2 tahun.
6. Hentikan kebiasaan menghisap jempol.
7. Rutin mengunjungi dokter gigi 6 bulan sekali.
Yuk, kita rawat gigi si kecil sedari dini :)
Sumber :
Hasil kulwap dg drg Yoseplin (drg RS.Siloam)
Hasil sharing dr grup mommylogy 👩👶💕
Sebelum memulai materi, saya mau cerita sedikit.
Sekitar setahun yang lalu, saya memeriksa gigi seorang anak. Secara keseluruhan giginya bagus tetapi ada dua gigi di depan yang bermasalah.
Ya, giginya mulai berlubang.
“Ah, biarin aja lah. Namanya juga gigi susu. Nanti juga akan diganti sama gigi dewasa. Jadi kalau sekarang berlubang ya gapapa lah.”
Begitu kata orangtua dari anak tersebut.
Apa benar tidak apa apa kalau gigi anak berlubang? Toh diganti dengan gigi dewasa ini.
Karies
Karies gigi merupakan penyakit pada jaringan gigi yang diawali dengan terjadinya kerusakan jaringan atau lebih dikenal dengan lubang gigi.
Karies bisa terjadi karena ada kuman, sisa makanan yang tidak dibersihkan, air ludah dan waktu. Karies gigi yang dibiarkan lama kelamaan akan bertambah besar apalagi jika ditambah dengan kebiasaan buruk yaitu tidak menyikat gigi.
Jadi karies bisa terjadi karena ada 4 faktor tersebut.
Pengetahuan orang tua sangat penting
dalam mendasari terbentuknya perilaku yang
mendukung atau tidak mendukung kebersihan
gigi dan mulut anak. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh secara alami maupun secara terencana
yaitu melalui proses pendidikan. Orang tua
dengan pengetahuan rendah mengenai kesehatan
gigi dan mulut merupakan faktor predisposisi
dari perilaku yang tidak mendukung kesehatan
gigi dan mulut anak (Eriska, 2005)
Anak usia 2-4 tahun memiliki
kegemaran untuk makan makanan yang manis,
sedangkan orang tua kurang mempedulikan
kebiasaan untuk menyikat gigi, jika seorang anak tidak mau menggosok gigi maka sebagai orang tua sebaiknya dapat memaksa anaknya untuk
menggosok gigi terutama saat menjelang tidur
malam. Bila seorang anak tidak terbiasa
menggosok gigi maka dari kebiasaan tersebut
dapat menyebabkan anak yang mengalami
karies.
Penyebab utamanya adalah makan dan minum yang mengandung banyak gula dalam waktu lama, misalnya kebiasaan minum susu dengan botol sampai anak tertidur.
PERAN GIGI SUSU
Gigi susu memiliki fungsi yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, tidak hanya kondisi gigi geliginya kelak, namun juga kondisi anak secara keseluruhan. gigi susu memiliki fungsi penting sebagai penunjuk jalan gigi tetap/ permanen yang akan tumbuh dimana gigi permanen berada dibawah gigi susu. Setiap periode sudah tersusun untuk digantikan secara berurutan oleh gigi berikutnya. Itulah kenapa, pada periode gigi susu, pada umumnya susunan gigi anak tidak rapat, alias jarang-jarang. Kemudian sesuai dengan urutannya pada gigi seri susu akan digantikan oleh gigi seri tetap/permanen, gigi geraham susu akan digantikan pula oleh gigi geraham permanen, sedangkan dibelakang gigi geraham susu yang terakhir sudah disiapkan untuk tempat gigi geraham besar tetap yang pertama. jadi semua sudah terpola, kemana gigi permanen akan menempati posisinya masing-masing.
Pencabutan gigi susu sebelum waktunya akan mengacaukan sistem keseimbangan susunan gigi didalam mulut. Pencabutan yang terlalu awal akan menyebabkan terjadinya pergeseran posisi gigi.
Akibatnya, gigi tetap / permanen yang akan tumbuh tidak akan memperoleh ruang cukup dan akan tumbuh gigi tetap dengan susunan gigi berjejal. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Ketika dilakukan pencabutan gigi susu yang terlalu awal, tentu saja hal tersebut akan menciptakan ruang kosong pada rahang. Namun, pada saat yang sama, benih gigi permanen yang seharusnya menggantikan gigi susu yang dicabut tersebut masih belum siap untuk tumbuh. Sedangkan, pada ruang kosong tersebut terjadi proses penyembuhan pada gusi dan tulang rahang, sehingga jaringan pada daerah sana menjadi tebal. Selain itu, karena sifat gigi pada umumnya adalah mobile, artinya gigi itu terus bergerak loh bu ibu... jadi ketika ad ruang kosong di dekatnya, di dukung dengan aktifitas bicara, dan pengunyahan, gigi bisa bergeser ke arah ruang kosong tersebut.
Nah, akibatnya ruang yang seharusnya di isi oleh gigi permanen, menjadi sempit, dan ketika gigi permanen itu tumbuh, tentunya dia akan mencari tempat “baru” dengan sendirinya untuk tumbuh. Itulah mengapa, pencabutan gigi susu yang terlalu awal bisa menyebabkan gigi permanen tumbuh berjejal. Walaupun gigi berjejal sebenarnya juga bisa dikarenakan oleh faktor keturunan.
MERAWAT GIGI SUSU
Gigi susu memiliki struktur email (permukaan gigi yang paling luar) yang lebih lunak dibandingkan dengan gigi permanen. Jadi, ketika gigi susu mulai berlubang ( bisa ada semacam titik atau garis wrna coklat kehitaman) segera konsutasikan kondisi tersebut pada dokter gigi. Sebisa mungkin, jangan sampai menunggu anak mengeluh sakit terlebih dahulu, karena tingkat kooperatifnya tentunya akan menurun drastis, sehingga akan sulit untuk ditindaklanjuti. Lalu, apa yang diperlukan untuk mejaga kesehatan gigi susu?
1. Wisata dokter gigi
Hal ini penting. Lakukan kunjungan “wisata” ke dokter gigi, atau ke klinik gigi dengan tujuan bermain-main. Emang nya boleh? Boleh bangeeeettt... paling cuma di charge biaya konsultasi hihi... Hindari untuk berkunjung ke dokter gigi dengan keadaan anak sudah memiliki keluhan pada giginya. Sudah merasa sakit, atau sudah merasa goyang. Tujuannya apa? Hanya untuk mengenalkan anak dengan lingkungan dokter gigi, yang ramah, dianggap seperti tempat bermain, familiar dengan aromanya, terbiasa untuk duduk di kursi giginya, mengenal dokternya, dan lain sebagainya. Biasanya
mungkin belum tentu berhasil dalam satu kali kunjungan, tetapi butuh beberapa kali. Awalnya mungkin hanya melihat-lihat ruangan, kunjungan berikutnya mulai mau duduk di kursi giginya, tahap berikutnya sudah mau dilihat giginya dengan kaca mulut mungkin, begitu seterusnya, dan dilakukan tanpa paksaan. Hindari akan adanya trauma. Sehingga, ketika anak mulai ada keluhan pada gigi nya dan diajak untuk ”memperlihatkan” giginya ke dokter gigi, anak sudah terbiasa dan tidak takut.
2. Rawat gigi susu seperti merawat gigi permanen Hal ini juga di sesuaikan dengan kondisi anak sendiri. Kapan anak mulai diajarkan untuk menyikat gigi? Jawabnya ketika anak sudah bisa memegang dan mengendalikan sikat gigi. Silahkan ajarkan untuk menyikat gigi yang tentunya dibantu oleh orang tua dan di cek kembali kebersihannya. Kalau belum bisa? Orang tua bisa juga membantu membersihkannya dengan menggunakan kasa yang dibasahi oleh air, atau kaos anak yg lembut juga bisa diapakai sebagai pengganti kasa. Aturannya sama seperti gigi permanen, sikat gigi 2x sehari, setelah makan dan sebelum tidur. Yang paling wajib sebelum tidur.
3. Ketika gigi anak belum muncul, biasakan untuk membersihkan gusinya setelah makan atau minum susu dengan kain kasa yang dibasahi air matang dengan gerakan lembut.
4. Ganti sikat gigi 3 bulan sekali untuk menghindari pertukaran bakteri.
5. Gunakan pasta gigi khusus anak dan gunakan secukupnya Penggunaan secukupnya pasta gigi berfluoride bagi anak sangat dianjurkan untuk menghindari kelebihan kadar fluoride dalam tubuh, dan sebaiknya diberikan pada usia ≥ 2 tahun.
6. Hentikan kebiasaan menghisap jempol.
7. Rutin mengunjungi dokter gigi 6 bulan sekali.
Yuk, kita rawat gigi si kecil sedari dini :)
Sumber :
Hasil kulwap dg drg Yoseplin (drg RS.Siloam)
Hasil sharing dr grup mommylogy 👩👶💕
Komentar