Langsung ke konten utama

Menapaki Mendung-Mendung


Menapaki Mendung-Mendung


Judul                           : Mendung Tak Bermalam
Penulis                         : Abu Umar Basyier
Penerbit                       : Shofa Media Publika
Tahun Penerbitan         : 2011
Cetakan                       : I
Harga                          : Rp 28.000,00
Tebal                           : 228 halaman
Ukuran                         : 13 x 18 cm
ISBN                           : 978-979-17922-7-1




“Hidup itu hari ini. Karena hari kemarin telah berlalu. Hari esok belum lagi tiba. Maka hidup kita di dunia ini adalah sekarang. Jangan merusak hal yang sedang kita alami, dengan derita di masa lampau yang sudah tiada, atau kecemasan terhadap hari esok yang belum lagi dan belum pasti tiba....”

Demikian petuah dari Hakim untuk Nafiah yang ditulis di halaman 139 buku Mendung Tak Bermalam. Buku ini diangkat dari kisah nyata seorang muslimah yaitu Nafiah, dalam menghadapi kepahitan hidup. Penulis menulis buku ini layaknya sebuah novel dengan alur kisah maju dan diselingi beberapa kilas balik. Sebagai pembuka, dikisahkan tentang masa kecil Nafiah yang penuh dengan keindahan. Selalu dimanjakan secara berlebihan oleh orang tuanya. Segala kesenangan selalu ia peroleh. Namun semenjak kelas IV dan ibunya wafat, kehidupan Nafiah larut dalam kesedihan. Kepahitan-kepahitan hidup pun menghadangnya, mengantarkan untuk menemukan jati diri dan memahami makna ‘terpuruk’.

Buku tentang kisah nyata, Mendung Tak Bermalam menawarkan bukan hanya perjalanan kehidupan seorang muslimah, melainkan pelajaran berharga yang merupakan penyadaran yang mengajak kita untuk lebih banyak merenung. Selain itu, tak jarang juga ditemukan Ayat-Ayat Al Quran serta hadits di dalam buku ini.

Sepeninggal ibunya, Nafiah tinggal bersama Sang Ayah dan Mbok Darsih. Kini Ayahnya sering sibuk di dapur dan menunggui Nafiah di sekolah. Ayah ialah seorang penyayang anak yang luar biasa. Ia rela mengabaikan waktu bekerjanya untuk memanjakan Nafiah. Selain memanjakan Nafiah, Ayah telah melatih Nafiah menjadi Ahli Shalat dan Ahli Puasa semenjak usia 7 tahun.

Mbok Darsih masih setia menemani Nafiah, walau ibu sudah wafat. Mbok Darsih tetap selalu menjaga Nafiah. Menurut Nafiah, Mbok Darsih bagai singa betina yang murka karena anaknya di usik lawan. Hal itu terbukti, saat Ayah meminta tolong Paman Sunar, adik kandung Ayah untuk menjaga Nafiah di rumah, kemudian Paman Sunar mencari-cari kesempatan untuk menggoda Nafiah dan Paman Sunar pun berhasil. Tapi seketika Mbok Darsih datang dan mengusir Paman Sunar. Setelah Paman Sunar pergi, Mbok Darsih berbisik lembut, “Kalau dia berani berbuat macam-macam terhadapmu, aku akan membunuhnya....”

Nafiah memasuki masa remaja. Orang bilang masa remaja itu masa yang penuh dengan keindahan. Tapi, itu tidak benar bagi Nafiah. Semenjak banyak kejadian yang menyergapnya dalam ketakutan, rasa sedih, dan keprihatinan atas dirinya sendiri, Nafiah berubah menjadi gadis tomboy. Kini, Nafiah gemar sekali berkeliaran di malam hari sambil berkebut-kebutan dengan sepeda motor besar. Menurutnya, hal ini menyenangkan. Padahal inilah saat-saat masalah mulai memuncak. Walaupun masalah-masalah besar telah terjadi dan akan terjadi di dalam kehidupan Nafiah.  Menambah daftar kelam keterpurukkan.  Anehnya, Sang Ayah tak merasa kesal dan kecewa ketika melihat Nafiah tampil tak ubahnya remaja lelaki.

Nafiah menghadiri pengajian. Berkat Maimunah yang selalu mengajaknya mengaji, akhirnya Nafiah pun turut serta. Maimunah adalah temannya sejak kecil. Sore itu, mereka menghadiri pengajian remaja yang diisi oleh Ustadz J.A. Nafiah mendapat banyak pelajaran dari kajian sore itu. Kini ia mengenakan kerudung.

Soal filosofi, kisah nyata ini menuliskan, “Karena peradaban moderen mereka hanya dibangun dengan kemampuan otak, tanpa bimbingan langit...”. Bimbingan langit? “Ya, tanpa petunjuk dari Allah. Sementara otak manusia adalah penuh keterbatasan. Tanpa bimbingan dari langit, manusia hanya akan terjebak pada kebodohan-kebodohan mereka sendiri.” (halaman 71 – 72)

Walau usianya 21 tahun, Nafiah berhasrat untuk menikah. Nafiah pun meminta Ustadz J.A. untuk mencarikan calon suami untuknya. Nafiah hanya merasa bahwa menikah saat ini bisa membantu menentramkan hatinya. Ia butuh menikah sekarang untuk menambah motivasinya belajar. Ustadz J.A., datang ke rumah Nafiah bersama Hakim. Hakim dan Nafiah mengobrol seputar hasrat Nafiah untuk menikah. Setelah beristikharah, disepakati bahwa Hakim dan Nafiah akan menikah. Mereka pun menikah dan hidup Nafiah kembali menjadi indah. Karena Hakim menghadirkan kembali banyak hal yang selama ini hilang dari diri Nafiah. Beberapa bulan kemudian Nafiah berjilbab lengkap dengan cadarnya.

Buku Mendung Tak Bermalam mengisahkan derita seorang muslimah yang akhirnya berujung kebahagiaan. Buku ini menampilkan kata-kata mutiara yang menyejukkan hati dan ceritanya diceritakan dengan alur kisah maju yang diselingi beberapa kilas balik sehingga mudah untuk dipahami. Sayangnya buku ini tidak menceritakan mengenai keluarga Hakim. Padahal sebenarnya Hakim sudah lama mengenal Nafiah dari Roni Sutarma yang tidak lain sahabat karib Nafiah.

Resensi Buku "Mendung Tak  Bermalam"
oleh Lusya Uci W.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi

PEMBAHASAN Pendahuluan Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan A.     Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi Memang tidak semua orang menyadari bahwa setiap saat kita selalu melakukan pekerjaan evaluasi. Dalam beberapa kegiatan sehari-hari, kita jelas-jelas mengadakan pengukuran dan penilaian.             Dari dua kalimat di atas kita sudah menemui tiga buah istilah, yaitu evaluasi, pengukuran, dan penilaian. Sementara orang memang lebih cenderung mengartikan ketiga kata tersebut sebagai suatu pengertian yang sama sehingga dalam penggunaannya hanya tergantung dari kata mana yang siap untuk diucapkannya dan sementara orang yang lainnya membedakan ketiga istilah tersebut.             Dan untuk memahami apa persamaan, perbedaan, ataupun hubungan antara ketiganya, dapat dipahami melalui contoh-contoh di bawah ini: a.       Apa...

Rinduku Lumpuh

gak nyangka, ditengah kumemikirkan bagaimana menjawab soal-soal matematika adekku malam ini..  1 2 3 4 5 6 7 mereka berbondong-bondong smsin aku, "Mb uci, nyebelin! Tp ngangenin... #sayang mb uci..^^" Yaelah.. idenya siapa ini, menggemaskan :') aku gak ngerti kudu kujawab apa, tapi gak njawab juga jawaban bukan? *maksa, haha aku juga sayang kalian :-) rindu kalian,. tapi, aku.. layaknya rembulan di malam lebaran.. itu yang kurasakan.. maaf sinarku dikekang begitu kuatnya.. dan rinduku lumpuh di langit.. aku sakit di sini. .:BMW Al Huda:.

,,bin ich hübsch?”

Das R ä tsel Ich bin ein wichtiges Ding. Ich werde von jedem Menschen jeden Tag gebraucht, Obwohl meine Gestalt ist schlicht. Ich habe verschidene Form; Viereck, Dreieck, rund, oval, usw. Morgens Menschen suchen mich. Sie erkundigen sich nach mich ü ber sie selbst. Alle Frauen mag mich betrachten. Sie bringen mich ü berallhin. Alle Frauen auch erkundigen sich nach mich ü ber sie selbst, ,,bin ich h ü bsch?” Wer bin ich?