. . .
“Sesungguhnya orang yang mulia tidaklah selain orang yang
suka berterima kasih serta tidak pendengki saja, melainkan ia bisa melupakan
beberapa sifat buruk karena sebuah kebaikan saja dari sahabatnya.”
“Telah tersebut dalam sebuah pepatah berharga bahwa
sesungguhnya hukuman yang dipercepat waktunya adalah hukuman pengkhianatan.
Barang siapa yang dimintai maaf dan diperlakukan dengan sopan namun kemudian ia
tidak mempunyai belas kasih dan tidak juga bersedia memaafkan, maka berarti ia
telah berkhianat!”
Faredun si tikus menjawab, “Sesungguhnya sahabat itu ada dua.
Pertama, sahabat karena terdorong niatnya untuk bersahabat secara sukarela.
Kedua, sahabat karena terpaksa dan kedua-duanya sama-sama mencari manfaat dan
menjaga dari kemudharatan. Adapun yang berniat menjalin persahabatan secara
suka rela, maka ia akan tenang dan menjamin keamanan dalam segala keadaan.
Sementara, sahabat karena terpaksa, dalam beberapa keadaan ia tenang terhadap
sahabatnya, namun dalam keadaan lain ia harus hati-hati dan mewaspadainya.”
. . .
Dikutip
dari buku
“Kalilah wa
Dimnah”
Yogyakarta:
Diva Press, 2009
halaman
243-244
Komentar