Langsung ke konten utama

UAS Apresiasi Seni


Sebenernya sih UAS Apresiasi Seni (Takehome) ini dibagi hari ini untuk diselesaikan paling lambat 10 hari kemudian. Yapp, , tapi apa salahnya kalau aku selesaikan malam ini, terus dikumpulin besok.. ^_^

Berikut hasil garapanku.. hahayy semoga bermanfaat.. J




UAS Apresiasi Seni



Mata Kuliah         : Apresiasi Seni
Jurusan/Prodi       : Pendidikan Bahasa Jerman
Dosen Penguji      : *
Hari/Tanggal        : Selasa, 26 Juni 2012
Nama                  : Lusya Uci Wardati
NIM.                  : 10203244011
Kelas                  : G



1.      Apakah yang anda ketahui tentang Apresiasi seni. Jelaskan berdasarkan etimologi dan maksudnya. Mengapa kesenian harus diapresiasi?
Jawab:
Istilah seni secara etimologi merupakan padanan kata art (Inggris) dan ars (Latin) atau techne (Yunani), arti atau arte (Renaissance). Apresiasi berasal dari bahas Inggris “Apreciation” artinya penghargaan. Apresiasi seni adalah adalah menikmati, menghayati dan merasakan suatu objek atau karya seni lebih tepat lagi dengan mencermati karya seni dengan mengerti dan peka terhadap segi-segi estetiknya, sehingga mampu menikmati dan memaknai karya-karya tersebut dengan semestinya.

Arte berarti kecakapan atau keahlian ini dihubungkan dengan pekerja kerajinan pada abad ke-14, 15 dan 16. Techne berarti kemahiran atau keterampilan yang tinggi untuk menciptakan benda-benda kebutuhan sehari-hari. Istilah seni rupa merupakan padanan dari visual art (seni rupa yang dapat dilihat), fine art (seni indah), pure art (seni murni).

Beberapa pengertian seni di antaranya:

·         Aristoteles: berpendapat bahwa seni adalah peniruan alam. Peniruan itu harus ideal dalam arti penciptaan seni itu berdasarkan bentuk alam yang disertai idea penciptanya untuk menghasilkan sesuatu yang lebih indah. Aristoteles juga berpendapat bahwa seni adalah merupakan katharsis (pemurnian rasa). Seperti sedih, senang, frustasi, marah yang oleh manusia biasanya sangat mempengaruhi tindakan-tindakannya, oleh seniman dapat ditingkatkan dan dimurnikan menjadi perbuatan pencipta seni seperti sajak, nada-nada lagu, lukisan, patung, dan sebagainya.
·         Plato: berpendapat bahwa seni adalah sebagai usaha meniru alam dan segala bentuknya dengan menggunakan suatu media.
·         Weitz: berpendapat bahwa seni adalah sebuah karya yang mengandung kesatuan organik yang kompleks serta disajikan dalam wujud kesatuan unsur, ekspresi, dan hubungan diantara keduanya yang menggugah indera manusia.
·         Kongres Kebudayaan Indonesia (1951): Seni adalah hasil dari getaran-getaran jiwa dan keselarasan perasaan dan pikiran yang mewujudkan suatu ciptaan yang indah dan luhur.
·         Tolstoy (1964): berpendapat bahwa seni adalah sebuah karya yang diciptakan oleh pribadi yang kreatif yang diwujudkan oleh pengungkapan yang harmonis, serta dapat berdiri sendiri sebagai suatu gagasan atau hasrat yang mengharukan.
·         Parker (1964): berpendapat bahwa seni adalah ekspresi sebuah pengalaman yang nyata dan memiliki nilai yang berdiri sendiri yang dapat ditangkap oleh pancaindera.
·         Ki Hajar Dewantoro: berpendapat bahwa seni adalah merupakan segala perbuatan manusia yang timbul yang timbul dari hidup perasaannya dan sifatnya indah, hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia yang lainnya.
·         Popo Iskandar: berpendapat bahwa seni adalah karya cipta manusia yang bersifat kreatif dan memiliki nilai yang dapat dikomunikasikan kepada orang lain.
·         Herbert Read (1968): berpendapat bahwa seni adalah kemahiran dalam menciptakan aneka bentuk untuk menggembirakan orang lain.

Dengan demikian seni merupakan karya manusia yang diciptakan dan dilandasi oleh kemahiran untuk menciptakan keindahan. Media pengungkapan karya seni beragam mulai dari kertas (gambar), tanah liat (keramik), batu atau kayu (patung), bahan bangunan (arsitektur), produk teknologi (desain produk), busana (tekstil), cetakan (grafis), nada suara (musik), tulisan (sastra), gerak (tari), gerak dan suara (drama). Pandangan yang mengatakan bahwa seni merupakan sesuatu yang mengandung nilai indah tidak sepenuhnya benar karena di samping indah, ada seni yang tidak indah, namun tetap mengandung kata seni. Seni merupakan bagian dari kehidupan manusia yang universal. Hal itu karena seni merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang mengandung nilai indah. Seni tdak mempunyai definisi tersendiri mengingat kompleksitas dan kedalamannya.

Seni perlu di apresiasi dengan harapan apresiator dapat mempertajam kepekaan terhadap persoalan hidup, membekali diri dengan pengalaman-pengalaman rohani, mempertebal nilai moral dan estetis.


2. Buatlah bagan atau skema tentang pohon seni dan bagian-bagiannya!
   Jawab:


3. Jelaskan yang anda ketahui tentang hubungan antara seni dan keindahan!
   Jawab:
Seni dan keindahan sangat berhubungan erat. Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks. Pengertian istilah “keindahan” tidak sederhana lagi ketika dikaitkan dengan pemikiran seni. Persoalannya yang mengundang pemikiran adalah membedakan keindahan sebagai rasa (sense) dan keindahan sebagai fenomena (kecantikan, keserasian, kondisi liris) yang menimbulkan rasa ini. Di dunia seni, seluk beluk keindahan dikenal sebagai persoalan “estetik”. Isitlah “estetik” ini berasal dari istilah dalam Bahasa Yunani kuno yaitu aesthesis, yang pengertiannya adalah “persepsi rasa” (sense perception). Dalam kebudayaan Yunani, persepsi rasa ini merupakan bagian dari dunia filsafat dan bisa diartikan sebagai “pikiran yang muncul dari rasa” (tidak absolut). Dibedakan dari pikiran yang muncul dari logika (cenderung absolut). Alexander Baumgarten adalah orang pertama yang mengembangkan pemikiran itu pada Abad ke 18. Pemikiran Baumgarten yang kemudian dikenal sebagai “Estetika” atau filsafat keindahan mengkaji rasa keindahan. Filosof ini mempersoalkan dunia rasa (sense) dan dampaknya pada pikiran. Baumgarten melihat persepsi rasa yang berkembang dari pengalaman merasakan keindahan merupakan aktivitas mental pada manusia.

Kepercayaan pada fenomena keindahan yang 'ada' dan 'terlihat', masuk akal apabila karya seni rupa menjadi pusat perhatian. Pemikiran tentang rasa keindahan kemudian memusatkan perhatiannya pada pesona rupa yang didapat dari karya seni rupa. Satu alur perkembangan pemikiran itu, filsafat seni, teori-teori seni, mempersoalkan 'pengalaman estetik' yaitu rasa keindahan yang berkaitan dengan ekspresi seni rupa. Disebut 'ilmu pengetahuan abstrak tentang perasaan' (abstract science of feeling). Alur yang lain, di antaranya sejarah seni rupa, mengkaji seluk beluk fenomena keindahan yang tampil pada karya seni rupa. Upaya ini berupaya menemukan fenomena keindahan yang sebenarnya (absolut) dengan tujuan, fenomena ini bisa (dijamin) memunculkan rasa keindahan yang sebenarnya (absolut) pada manusia. Kajian ini, yang dilakukan terus menerus pada Abad ke 20, menjadi sebuah himpunan seluk beluk fenomena keindahan karya seni (rupa) yang disebut 'perbendaharaan estetik' (aesthetic property).

Kedua alur perkembangan itu menjadi dasar wacana seni rupa di Eropa dan Amerika yang kemudian menjadi seni rupa global. Dalam perkembangannya wacana ini sangat berpengaruh bahkan dominan dan menjadi semacam institusi penentu 'apakah seni'.


3. Dalam seni tradisi segala penciptaannya selalu dikaitkan dengan istilah ideofaks, sosiofaks, dan teknofaks. Apa maksudnya!
   Jawab:

*      Ideofak adalah hasil kebudayaan menuasia yang menjadi cita–cita luhur suatu  masyarakat yang dengan cita – cita itu mendorong masyarakat untuk mencapainya dan mengilhami cara  - cara dalam mencapai tujuan atau cita–cita tersebut (way of life).
*      Sosiofak adalah hasil kebudayaan manusia yang bermanifes sebagai tata kehidupan bermasyarakat dan tata perilaku dalam masyarakat. Sosiofak berwujud nilai-nilai tabu yang berlaku untuk mengatur kehidupan dalam masyarakat.
*      Teknofak adalah artefak yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan praktis sehari – hari.


   4. Jelaskan perkembangan seni menurut Van Peursen dalam pembagiannya yang tiga tahap, yaitu Mitis, Ontologis dan Fungsional!
      Jawab:
     Menurut C.A. van Peursen, mitos adalah suatu cerita yang memberikan pedoman atau arah tertentu kepada sekelompok orang. Cerita itu dapat ditularkan, dapat pula diungkapkan lewat tari-tarian atau pementasan wayang, dan sebagainya. Inti cerita adalah lambang-lambang yang mencetuskan pengalaman manusia beserta lambang kejahatan dan kebaikan, kehidupan dan kematian, dosa dan penyucian, juga perkawinan dan kesuburan. Tiga tahap yang dimaksud pada bagian ini adalah tahap mitis, tahap ontologis, dan tahap fungsional. Tahap ontologis adalah sikap manusia yang tidak lagi dalam kepungan kekuasaan mitis, melainkan secara bebas ingin meneliti segala hal ihwal, dalam tahap ini manusia mulai mengambil jarak terhadapn segala sesuatu yang dirasakan mengepung manusia. Pada tahap ini manusia mulai menyusun suatu ajaran atau teori mengenai dasar hakekat segala sesuatu dan segala sesuatu menurut perinciannya.

*      ALAM PIKIRAN MITIS
Orang menyebut budaya yang lama dengan istilah ”primitif. Kendati sebutan itu menurut Peursen sudah tidak relevan lagi. Karena, menurutnya, dunia alam pikirannya mengandung suatu filsafat yang dalam, gambaran yang ajaib dan adat istiadat yang beragam. Runutan epistemologis akan menemukan kata mitos dari kata mitis ini, kata mitos sendiri berarti sebuah cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu untuk sekompok orang. Mitos bukan hanya reportase peristiwa-peristiwa yang dulu terjadi, tetapi mitos memberikan arah kepada kelakuan manusia dan merupakan pedoman dalam menentukan kebijaksanaan manusia.
Mitos biasanya diturunkan oleh pendahulu dan akan diteruskan lagi. Begitulah kemudian akhirnya sebuah mitos bergulir dari jaman ke jaman. Cerita atau tuturan penurunan ini dapat diungkapkan dengan kata-kata, tari-tarian, atau pementasan lain, wayang misalnya. Tarian di samping sebagai salah satu wujud tradisi lisan, juga sekaligus sebagai suatu bentuk seni pertunjukan. Dikatakan sebagai suatu tradisi lisan karena tarian tersebut mengandung dimensi mithologi atau pesan tertentu yang hanya dipahami oleh pendukung tarian tersebut, dengan demikian menjadi sarana komunikasi, sosialisasi atau sebagai suatu proses reproduksi kebudayaan baik dalam konteks ritual, seni, maupun dalam bentuk pertunjukan lainnya. Dengan asumsi bahwa tarian merupakan bagian dari media pertunjukan dan performance itu selalu mengharapkan adanya audience. Selain Kapferer, Bauman juga menekankan bahwa performance merupakan suatu bentuk perilaku yang komunikatif dan sebagai suatu peristiwa komunikasi, atau “performance usually of communication, framed in a special way and put on display for an audience”. Ini menunjukkan bahwa bahwa tarian sebagai suatu bentuk seni pertunjukan sama dengan seni pertunjukan lainnya dimana audience menjadi bagian darinya. Disamping itu, tarian juga merupakan salah satu alat atau media komunikasi yang bersifat lisan (non-verbal), baik dalam konteks seni maupun ritual. Proses transformasi makna lewat komunikasi tersebut, berbeda dengan bahasa (narasi dan visual), dimana makna yang diekspresikan lewat tarian melalui perilaku atau gerakan.Mitos tidak hanya sebuah reportase akan apa yang telah terjadi saja, namun mitos itu memberikan semacam arah kepada kelakuan manusia dan digunakan sebagai pedoman untuk kebijaksanaan manusia. Lewat mitos manusia mengambil bagian (ber-part-sipasi). Partisipasi manusia dalam alam pikiran mitis ini dilukiskan sederhana sebagai berikut: Terdapat subjek, yaitu manusia (S) yang dilingkari oleh dunia, obyek (O). Tetapi subjek itu tidak bulat sehingga daya-daya kekuatan alam dapat menerobosnya. Manusia (S) itu terbuka dan dengan demikian berpartisipasi dengan daya-daya kekuatan alam (O). Partisipasi tersebut berarti bahwa manusia belum mempunyai identitas atau individualitas yang bulat, masih sangat terbukan dan belum merupakan suatu subjek yang berdikari sehingga dunia sekitarnya pun belum dapat disebut (O) yang sempurna dan utuh.
Mitos memiliki beberapa fungsi, fungsi yang pertama ialah menyadarkan manusia bahwa ada kekuatan-kekuatan ajaib. Mitos tidak memberikan bahan informasi mengenai kekuatan itu tetapi membantu manusia agar dapat menghayati daya-daya itu sebagai kekuatan yang mempengaruhi dan menguasai alam kehidupan. Fungsi yang kedua dari mitos sangat bertalian erat dengan fungsi yang pertama yaitu perantara manusia dengan kekuatan gaib. Sedang fungsi yang ketiga yaitu memberikan pengetahuan tentang terjadinya dunia. Fungsi-fungsi tersebut memaparkan strategi secara meneyeluruh, mengatur dan mengarahkan hubungan antara manusia dan daya-daya kekuatan alam.
Pada tahap mitis ungkapan “itu ada” merupakan puncak pengalaman yang dialami manusia. Dalam dunia mitis manusia belum merupakan seorang individu (subyek) yang bulat, ia dilanda oleh gambaran-gambaran dan perasaan-perasaaan ajaib, seolah-olah ia diresapi oleh roh-roh dan daya-daya dari luar. Ia terpesona oleh dunia ajaib, penuh teka-teki tentang kesuburan, hidup dan mati, pertalian suku. Mau tidak mau ia harus mengakui bahwa sesuatu berada hingga sampai pada puncaknya yaitu sesuatu itu ada.
Pada tahap mitis ada dua hal yang sangat berlawanan yaitu mitos religius dan praktek magi. Dalam kehidupan manusia primitive magi memainkan peranan besar. Dalam, dunia mitos manusia mengaraahkan pandangannya dari dunia ini kepada dunia yang penuh kekuasaan yang tinggi, dalam magi manusia bertitik tolak dari dunia penuh kekuasaan. Atau lebih sederhana mitos lebih mirip dengan pujaan religius sedang magi lebih condong menguasai lewat beberapa kepandaian. Magi mau menangkis mara bahaya, mempengaruhi daya-daya kekuatan alam, menguasai orang-orang yang mau membunuh orang lain dengan menusuk-nusuk gambarnya.

*      ALAM PIKIRAN ONTOLOGIS
Dalam alam pikiran ontologis, manusia mulai mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang mengitarinya. Ia tidak begitu terkurung lagi, bahkan kadang ia bertindak sebagai penonton atas hidupnya sendiri. Ia berusaha memperoleh pengertian mengenai daya-daya kekuatan yang menggerakkan alam dan manusia. Perkembangan ini pernah disebut sebagai perkembangan dari ”mitos” ke ”logos”. Kata ”logos” mengandung arti sesuatu yang mirip dengan ”logis”. Namun dalam tahap ini memang manusia tidak hanya melulu berpikir secara logis, tapi emosi dan harapan juga bermain di sini, pun agama dan keyakinan juga tetap berpengaruh. Sekarang ajaran mengenai dunia mitologis berubah menjadi metafisika. Refleksi atas kehidupan manusia dengan para pemikir besar Yunani, sebut saja Aristoteles, Plato, dan dedengkot filsafat yang lain meramaikan alam pikiran ontologis ini. Pertanyaan yang diajukan dalam alam pikiran ini adalah tentang dunia transenden, tentang kebebasan manusia, pengertian mengenai dosa dan kehidupan, eskaton (akhir jaman), dll.
Sebagaimana dalam tahap mitis. Tahap ontologyjuga memilki beberapa fungsi yaitu membuat suatu peta mengenai segala sesuatu mengenai manusia. Sikap ontologis berusaha menampakkan dunia transendensi sehingga dapat dimengerti. Sebagai contoh adalah pembuktian adanya Tuhan. Hal ini diawali dari pengalaman manusia mengenai daya-daya kekuatan yang direnungkan dalam alam filsafat. Sikap mitis dan renungan ontologis berhubungan namun pendekatannya berbeda. Dalam sikap mitis manusia mengambil bagian dalam daya-daya yang meresapi alam dan manusia sedangkan dalam perenungan ontologis manusia mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang mengitarinya agar dengan demikian lewat pengertian dapat dibuktikan adanya sesuatu kekuasaan yang lebih tinggi.
Fungsi mitos yang kedua adalah jaminan mengenai hari ini. Proses-proses yang terjadi di alam raya dan dalam hidup menusia mulai diterangkan dengan bertitik pangkal pada hukum-hukum abadi. Mitos-mitos masih dipakai, tetapi sekarang lebih sebagai suatu alat atau sarana untuk menerangkan sesuatu atau menuturkan sesuatu yang sukar diungkapkan dengan cara lain.
Fungsi ketiga dari ontologis adalah menyajikan pengetahuan. Dalam alam pikiran ontologism yang dipentingkanadalah hakekat sesuatu apanya, pada tahap ini manusia juga ingin mengakui daya-daya yang menguasai kehidupan manusia beserta alam raya tetapi lewat jalan memperoleh pengetahuan dan mengakui apanya.
Manusia berusaha menempatkan diri dalam hubungan baik dan dalam alam ontologism hubungan tersebut tak lain daripada hubungan yang masuk akal menurut arti harfiah, akal budi harus mengakui hakekat manusia, dunia dan dewa-dewa dengan demikian akan menampilkan kebenaran. Tetapi kedua sikap itu tidak selalu sepi dari kesombongan. Dalam duinia mitis kesombongan menghasilkan magi, sedang dalamontologism kesombongan menghasilkan substansialisme.
Substansialisme berasal dari kata substansi yang berarti sesuatu yang dapat berdiri sendiri yang mempunyai landasan sendiri dan tidak perelu bersandar atau bergantung pada sesuatu yang berada di luar. Dengan demikian hubungan makhluk yang satu dengan yang lain dapat diputuskan. Substansialisme mengadakan isolasi. Memisahkan manusia, barang-barang, dunia nilai-nilai, Tuhan, dipandang sebagai lingkaran-lingkaran yang berdiri sendiri lepas antara yang satu dengan yang lain.
Substansialisme merupakan bahaya yang selalu menyergap alam pikiran ontologism. Nilai-nilai dan konsep-konsep dijadikan substansi-substansi yang terlepas. Bahkan manusia dijadikan dua substansi yaitu badan dan jiwa. Masyarakat tak lain daripada suatu penjumlahan individu-individu. Distansi menjadi keretakan dan masyarakat dijadikan sistem tertutup yang tak dapat diganggu gugat, entah karena sistem feudal, kapitalis, atau disiplin partai.

*      ALAM PIKIRAN FUNGSIONAL
Fungsional dapat dilihat sebagai suatu pembebasan dari substansialisme. Alam pikiran fungsional menyangkut hubungan, pertautan dan relasi. Alam pikiran manusia selalu mengandung aspek-aspek fungsionil. Alam pikiran ini meliputi baik teori maupun praktek, perbuatan etis dan karya artistik, sektor pekerjaan dan keputusan-keputusan politis. Tetapi di tengah gejala-gejala nampak adanya sikap dasar dalam alam fungsional yaitu orang mencari hubungan-hubungan antara semua bidang, arti sebuah kata atau perbuatan atau barang dipandang menurut peran dan fungsi yang dimainkan dalam keseluruhan yang saling berhubungan. Dalam alam pikiran fungsionil nampak bagiamana manusia dan dunia saling menunjukkan, relasi, kebertautan antara yang satu dengan yang lain.
Ada tiga aspek dalam pikiran fungsionil. Aspek pertama yaitu bagaiamana manusia ingin memperlihatkan daya-daya kekuatan sekitarnya aatau menjadikan semuanya itu sesuatu yang dialami. Dalam pikiran refleksi, kesadaran sosial, kesenian dan religi, manusia berusaha mewujudkannya, bagaimana sesuatu mempunyai arti atau tidak berarti.
Aspek yang kedua adalah bagaimana memberi dasar kepada masa kini. Di sini akan terlihat bagaimana manusia dan struktur sosialnya dapat diberi arti dan dibenarkan. Teknik dan rekreasi, psikoterapi, kesenian, teologi dan sopan-santun sangat erat hubungannya secara fungsionil, asal bidang-bidang itu mampu memberi arti kepada situasi-situasi konkrit.
Aspek ketiga yang menyerupai aspek-aspek semacam itu dalam tahap mitis dan ontologism ialah peran ilmu pengetahuan. Pada tahap inipun orang ingin menambah pengetahuan.
Jika dalam mitis ada magi, dalam ontologis ada substansialisme, maka dalam alam fungsionil ada operasional. Gejala operasional adalah suatu bahaya yang melampaui batas-batas yang merongrong sesuatu. Operasionalisme selalu membayangi pikiran fungsionil; bagaikan suara hati yang gelisah. Manusia menjadi terkurung dalam operasi-operasi dan akal-akalnya sendiri. Sikap fungsionil lebih menunjukkan suatu tanggung jawab daripada suatu tahap yang telah tercapai.


5. Ada empat metode mengapresiasi seni jelaskan dan berilah masing-masing contoh penerapannya!
    Jawab:

*     Metode Induktif
Apresiasi dilakukan dengan cara menarik konsep / kebenaran / keindahan dari pranata yang sifatnya khusus sampai yang bersifat umum.
*     Metode Deduktif
Apresiasi dilakukan dengan cara menarik konsep / kebenaran / keindahan dari pranata yang sifatnya umum sampai yang bersifat khusus
*     Metode Empati
Apresiator mengamati seolah- olah larut pada peraasan, terawa oleh obyek, sehingga dalam komentar-komentarny terdapat ibarat, metafora yang melebih-lebihkan.
Contoh: Dalam mengapresiasi sastra, seseorang akan mengalami sebagian kehidupan yang dialami pengarangnya, yang tertuang dalam karyanya. Ini terjadi karena adanya daya empati yang membuat pembaca terbawa ke alm suasana dan gerak hati dalam karya itu. Kemampuan menghayati pengalaman pengarang ini dapat menimbulkan kenikmatan bagi pembaca. Mengapa? Karena pembaca merasa mampu memahami pengalaman orang lain, juga merasa pengalamannya bertambah hingga dapat menghadapi kehidupan dengan lebih baik. Pembaca juga merasa kagum akan kemampuan sasterawan daam memberikan, memadukan, dan memperjelas makna terhadap pengalaman yang diolahnya, serta mampu menemukan nilai-nilai estetik karya itu.
*     Metode Interaktif
Metode ini dilakukan untuk mencari kesepakatan dengan melalui sarasehan seni.


7. Ceritakanlah salah satu pengalaman anda dalam mengapresiasikan seni di sekitar anda!
   Jawab: 
* (ups,, kalau jawaban yang ini,, hm rahasia deh.. haha)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi

PEMBAHASAN Pendahuluan Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan A.     Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi Memang tidak semua orang menyadari bahwa setiap saat kita selalu melakukan pekerjaan evaluasi. Dalam beberapa kegiatan sehari-hari, kita jelas-jelas mengadakan pengukuran dan penilaian.             Dari dua kalimat di atas kita sudah menemui tiga buah istilah, yaitu evaluasi, pengukuran, dan penilaian. Sementara orang memang lebih cenderung mengartikan ketiga kata tersebut sebagai suatu pengertian yang sama sehingga dalam penggunaannya hanya tergantung dari kata mana yang siap untuk diucapkannya dan sementara orang yang lainnya membedakan ketiga istilah tersebut.             Dan untuk memahami apa persamaan, perbedaan, ataupun hubungan antara ketiganya, dapat dipahami melalui contoh-contoh di bawah ini: a.       Apa...

Rinduku Lumpuh

gak nyangka, ditengah kumemikirkan bagaimana menjawab soal-soal matematika adekku malam ini..  1 2 3 4 5 6 7 mereka berbondong-bondong smsin aku, "Mb uci, nyebelin! Tp ngangenin... #sayang mb uci..^^" Yaelah.. idenya siapa ini, menggemaskan :') aku gak ngerti kudu kujawab apa, tapi gak njawab juga jawaban bukan? *maksa, haha aku juga sayang kalian :-) rindu kalian,. tapi, aku.. layaknya rembulan di malam lebaran.. itu yang kurasakan.. maaf sinarku dikekang begitu kuatnya.. dan rinduku lumpuh di langit.. aku sakit di sini. .:BMW Al Huda:.

,,bin ich hübsch?”

Das R ä tsel Ich bin ein wichtiges Ding. Ich werde von jedem Menschen jeden Tag gebraucht, Obwohl meine Gestalt ist schlicht. Ich habe verschidene Form; Viereck, Dreieck, rund, oval, usw. Morgens Menschen suchen mich. Sie erkundigen sich nach mich ü ber sie selbst. Alle Frauen mag mich betrachten. Sie bringen mich ü berallhin. Alle Frauen auch erkundigen sich nach mich ü ber sie selbst, ,,bin ich h ü bsch?” Wer bin ich?