Sebenernya
sih UAS Apresiasi Seni (Takehome) ini dibagi hari ini untuk diselesaikan paling
lambat 10 hari kemudian. Yapp, , tapi apa salahnya kalau aku selesaikan malam
ini, terus dikumpulin besok.. ^_^
Berikut
hasil garapanku.. hahayy semoga bermanfaat.. J
Mata Kuliah : Apresiasi Seni
Jurusan/Prodi : Pendidikan
Bahasa Jerman
Dosen Penguji : *
Hari/Tanggal : Selasa, 26
Juni 2012
Nama : Lusya
Uci Wardati
NIM. :
10203244011
Kelas : G
1.
Apakah
yang anda ketahui tentang Apresiasi seni. Jelaskan berdasarkan etimologi dan
maksudnya. Mengapa kesenian harus diapresiasi?
Jawab:
Istilah seni secara etimologi merupakan padanan kata
art (Inggris) dan ars (Latin) atau techne (Yunani), arti atau arte
(Renaissance). Apresiasi berasal dari bahas Inggris “Apreciation”
artinya penghargaan. Apresiasi seni adalah adalah menikmati, menghayati dan
merasakan suatu objek atau karya seni lebih tepat lagi dengan mencermati karya
seni dengan mengerti dan peka terhadap segi-segi estetiknya, sehingga mampu
menikmati dan memaknai karya-karya tersebut dengan semestinya.
Arte berarti kecakapan atau keahlian ini dihubungkan
dengan pekerja kerajinan pada abad ke-14, 15 dan 16. Techne berarti kemahiran
atau keterampilan yang tinggi untuk menciptakan benda-benda kebutuhan
sehari-hari. Istilah seni rupa merupakan padanan dari visual art (seni rupa
yang dapat dilihat), fine art (seni indah), pure art (seni murni).
Beberapa pengertian seni di antaranya:
·
Aristoteles:
berpendapat bahwa seni adalah peniruan alam. Peniruan itu harus ideal dalam
arti penciptaan seni itu berdasarkan bentuk alam yang disertai idea penciptanya
untuk menghasilkan sesuatu yang lebih indah. Aristoteles juga berpendapat bahwa
seni adalah merupakan katharsis (pemurnian rasa). Seperti sedih, senang,
frustasi, marah yang oleh manusia biasanya sangat mempengaruhi
tindakan-tindakannya, oleh seniman dapat ditingkatkan dan dimurnikan menjadi
perbuatan pencipta seni seperti sajak, nada-nada lagu, lukisan, patung, dan
sebagainya.
·
Plato:
berpendapat bahwa seni adalah sebagai usaha meniru alam dan segala bentuknya
dengan menggunakan suatu media.
·
Weitz:
berpendapat bahwa seni adalah sebuah karya yang mengandung kesatuan organik
yang kompleks serta disajikan dalam wujud kesatuan unsur, ekspresi, dan
hubungan diantara keduanya yang menggugah indera manusia.
·
Kongres
Kebudayaan Indonesia (1951): Seni adalah hasil dari getaran-getaran jiwa dan
keselarasan perasaan dan pikiran yang mewujudkan suatu ciptaan yang indah dan
luhur.
·
Tolstoy
(1964): berpendapat bahwa seni adalah sebuah karya yang diciptakan oleh pribadi
yang kreatif yang diwujudkan oleh pengungkapan yang harmonis, serta dapat
berdiri sendiri sebagai suatu gagasan atau hasrat yang mengharukan.
·
Parker
(1964): berpendapat bahwa seni adalah ekspresi sebuah pengalaman yang nyata dan
memiliki nilai yang berdiri sendiri yang dapat ditangkap oleh pancaindera.
·
Ki
Hajar Dewantoro: berpendapat bahwa seni adalah merupakan segala perbuatan
manusia yang timbul yang timbul dari hidup perasaannya dan sifatnya indah,
hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia yang lainnya.
·
Popo
Iskandar: berpendapat bahwa seni adalah karya cipta manusia yang bersifat
kreatif dan memiliki nilai yang dapat dikomunikasikan kepada orang lain.
·
Herbert
Read (1968): berpendapat bahwa seni adalah kemahiran dalam menciptakan aneka
bentuk untuk menggembirakan orang lain.
Dengan demikian seni merupakan karya manusia yang diciptakan dan dilandasi oleh
kemahiran untuk menciptakan keindahan. Media pengungkapan karya seni beragam
mulai dari kertas (gambar), tanah liat (keramik), batu atau kayu (patung),
bahan bangunan (arsitektur), produk teknologi (desain produk), busana
(tekstil), cetakan (grafis), nada suara (musik), tulisan (sastra), gerak
(tari), gerak dan suara (drama). Pandangan yang mengatakan bahwa seni merupakan
sesuatu yang mengandung nilai indah tidak sepenuhnya benar karena di samping
indah, ada seni yang tidak indah, namun tetap mengandung kata seni. Seni
merupakan bagian dari kehidupan manusia yang universal. Hal itu karena seni
merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang mengandung nilai indah. Seni tdak
mempunyai definisi tersendiri mengingat kompleksitas dan kedalamannya.
Seni perlu di apresiasi
dengan harapan apresiator dapat mempertajam kepekaan terhadap persoalan hidup,
membekali diri dengan pengalaman-pengalaman rohani, mempertebal nilai moral dan
estetis.
2. Buatlah
bagan atau skema tentang pohon seni dan bagian-bagiannya!
Jawab:
3. Jelaskan yang anda ketahui
tentang hubungan antara seni dan keindahan!
Jawab:
Seni dan keindahan sangat
berhubungan erat. Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal
dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun
telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan
berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian
yang kompleks. Pengertian istilah “keindahan” tidak sederhana lagi ketika
dikaitkan dengan pemikiran seni. Persoalannya yang mengundang pemikiran adalah
membedakan keindahan sebagai rasa (sense) dan keindahan sebagai fenomena
(kecantikan, keserasian, kondisi liris) yang menimbulkan rasa ini. Di dunia
seni, seluk beluk keindahan dikenal sebagai persoalan “estetik”. Isitlah
“estetik” ini berasal dari istilah dalam Bahasa Yunani kuno yaitu aesthesis,
yang pengertiannya adalah “persepsi rasa” (sense perception). Dalam kebudayaan
Yunani, persepsi rasa ini merupakan bagian dari dunia filsafat dan bisa
diartikan sebagai “pikiran yang muncul dari rasa” (tidak absolut). Dibedakan
dari pikiran yang muncul dari logika (cenderung absolut). Alexander Baumgarten
adalah orang pertama yang mengembangkan pemikiran itu pada Abad ke 18.
Pemikiran Baumgarten yang kemudian dikenal sebagai “Estetika” atau filsafat
keindahan mengkaji rasa keindahan. Filosof ini mempersoalkan dunia rasa (sense)
dan dampaknya pada pikiran. Baumgarten melihat persepsi rasa yang berkembang
dari pengalaman merasakan keindahan merupakan aktivitas mental pada manusia.
Kepercayaan
pada fenomena keindahan yang 'ada' dan 'terlihat', masuk akal apabila karya
seni rupa menjadi pusat perhatian. Pemikiran tentang rasa keindahan kemudian
memusatkan perhatiannya pada pesona rupa yang didapat dari karya seni rupa.
Satu alur perkembangan pemikiran itu, filsafat seni, teori-teori seni,
mempersoalkan 'pengalaman estetik' yaitu rasa keindahan yang berkaitan dengan ekspresi
seni rupa. Disebut 'ilmu pengetahuan abstrak tentang perasaan' (abstract
science of feeling). Alur yang lain, di antaranya sejarah seni rupa,
mengkaji seluk beluk fenomena keindahan yang tampil pada karya seni rupa. Upaya
ini berupaya menemukan fenomena keindahan yang sebenarnya (absolut) dengan
tujuan, fenomena ini bisa (dijamin) memunculkan rasa keindahan yang sebenarnya
(absolut) pada manusia. Kajian ini, yang dilakukan terus menerus pada Abad ke
20, menjadi sebuah himpunan seluk beluk fenomena keindahan karya seni (rupa)
yang disebut 'perbendaharaan estetik' (aesthetic property).
Kedua alur perkembangan itu menjadi dasar wacana seni rupa di Eropa dan Amerika
yang kemudian menjadi seni rupa global. Dalam perkembangannya wacana ini sangat
berpengaruh bahkan dominan dan menjadi semacam institusi penentu 'apakah seni'.
3. Dalam seni tradisi segala penciptaannya selalu
dikaitkan dengan istilah ideofaks, sosiofaks, dan teknofaks. Apa maksudnya!
Jawab:
Ideofak adalah hasil kebudayaan menuasia yang menjadi
cita–cita luhur suatu masyarakat yang dengan cita – cita itu mendorong
masyarakat untuk mencapainya dan mengilhami cara - cara dalam mencapai tujuan atau cita–cita
tersebut (way of life).
Sosiofak adalah hasil kebudayaan manusia yang
bermanifes sebagai tata kehidupan bermasyarakat dan tata perilaku dalam
masyarakat. Sosiofak berwujud nilai-nilai tabu yang berlaku untuk mengatur
kehidupan dalam masyarakat.
Teknofak adalah artefak yang berfungsi untuk memenuhi
kebutuhan praktis sehari – hari.
4. Jelaskan perkembangan seni
menurut Van Peursen dalam pembagiannya yang tiga tahap, yaitu Mitis, Ontologis
dan Fungsional!
Jawab:
Menurut C.A. van Peursen, mitos
adalah suatu cerita yang memberikan pedoman atau arah tertentu kepada
sekelompok orang. Cerita itu dapat ditularkan, dapat pula diungkapkan lewat
tari-tarian atau pementasan wayang, dan sebagainya. Inti cerita adalah
lambang-lambang yang mencetuskan pengalaman manusia beserta lambang kejahatan
dan kebaikan, kehidupan dan kematian, dosa dan penyucian, juga perkawinan dan
kesuburan. Tiga tahap yang dimaksud pada bagian ini adalah tahap mitis, tahap
ontologis, dan tahap fungsional. Tahap ontologis adalah sikap manusia yang
tidak lagi dalam kepungan kekuasaan mitis, melainkan secara bebas ingin
meneliti segala hal ihwal, dalam tahap ini manusia mulai mengambil jarak
terhadapn segala sesuatu yang dirasakan mengepung manusia. Pada tahap ini
manusia mulai menyusun suatu ajaran atau teori mengenai dasar hakekat segala
sesuatu dan segala sesuatu menurut perinciannya.
ALAM PIKIRAN MITIS
Orang menyebut budaya yang lama dengan istilah
”primitif. Kendati sebutan itu menurut Peursen sudah tidak relevan lagi.
Karena, menurutnya, dunia alam pikirannya mengandung suatu filsafat yang dalam,
gambaran yang ajaib dan adat istiadat yang beragam. Runutan epistemologis akan
menemukan kata mitos dari kata mitis ini, kata mitos sendiri berarti sebuah
cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu untuk sekompok orang. Mitos
bukan hanya reportase peristiwa-peristiwa yang dulu terjadi, tetapi mitos
memberikan arah kepada kelakuan manusia dan merupakan pedoman dalam menentukan
kebijaksanaan manusia.
Mitos biasanya diturunkan oleh pendahulu dan akan
diteruskan lagi. Begitulah kemudian akhirnya sebuah mitos bergulir dari jaman
ke jaman. Cerita atau tuturan penurunan ini dapat diungkapkan dengan kata-kata,
tari-tarian, atau pementasan lain, wayang misalnya. Tarian di samping sebagai
salah satu wujud tradisi lisan, juga sekaligus sebagai suatu bentuk seni
pertunjukan. Dikatakan sebagai suatu tradisi lisan karena tarian tersebut
mengandung dimensi mithologi atau pesan tertentu yang hanya dipahami oleh
pendukung tarian tersebut, dengan demikian menjadi sarana komunikasi,
sosialisasi atau sebagai suatu proses reproduksi kebudayaan baik dalam konteks
ritual, seni, maupun dalam bentuk pertunjukan lainnya. Dengan asumsi bahwa
tarian merupakan bagian dari media pertunjukan dan performance itu selalu
mengharapkan adanya audience. Selain Kapferer, Bauman juga menekankan bahwa
performance merupakan suatu bentuk perilaku yang komunikatif dan sebagai suatu
peristiwa komunikasi, atau “performance usually of communication, framed in a
special way and put on display for an audience”. Ini menunjukkan bahwa bahwa
tarian sebagai suatu bentuk seni pertunjukan sama dengan seni pertunjukan
lainnya dimana audience menjadi bagian darinya. Disamping itu, tarian juga
merupakan salah satu alat atau media komunikasi yang bersifat lisan
(non-verbal), baik dalam konteks seni maupun ritual. Proses transformasi makna
lewat komunikasi tersebut, berbeda dengan bahasa (narasi dan visual), dimana
makna yang diekspresikan lewat tarian melalui perilaku atau gerakan.Mitos tidak
hanya sebuah reportase akan apa yang telah terjadi saja, namun mitos itu
memberikan semacam arah kepada kelakuan manusia dan digunakan sebagai pedoman
untuk kebijaksanaan manusia. Lewat mitos manusia mengambil bagian
(ber-part-sipasi). Partisipasi manusia dalam alam pikiran mitis ini dilukiskan
sederhana sebagai berikut: Terdapat subjek, yaitu manusia (S) yang dilingkari
oleh dunia, obyek (O). Tetapi subjek itu tidak bulat sehingga daya-daya
kekuatan alam dapat menerobosnya. Manusia (S) itu terbuka dan dengan demikian
berpartisipasi dengan daya-daya kekuatan alam (O). Partisipasi tersebut berarti
bahwa manusia belum mempunyai identitas atau individualitas yang bulat, masih
sangat terbukan dan belum merupakan suatu subjek yang berdikari sehingga dunia
sekitarnya pun belum dapat disebut (O) yang sempurna dan utuh.
Mitos memiliki beberapa fungsi, fungsi yang pertama
ialah menyadarkan manusia bahwa ada kekuatan-kekuatan ajaib. Mitos tidak
memberikan bahan informasi mengenai kekuatan itu tetapi membantu manusia agar
dapat menghayati daya-daya itu sebagai kekuatan yang mempengaruhi dan menguasai
alam kehidupan. Fungsi yang kedua dari mitos sangat bertalian erat dengan
fungsi yang pertama yaitu perantara manusia dengan kekuatan gaib. Sedang fungsi
yang ketiga yaitu memberikan pengetahuan tentang terjadinya dunia.
Fungsi-fungsi tersebut memaparkan strategi secara meneyeluruh, mengatur dan
mengarahkan hubungan antara manusia dan daya-daya kekuatan alam.
Pada tahap mitis ungkapan “itu ada” merupakan puncak
pengalaman yang dialami manusia. Dalam dunia mitis manusia belum merupakan
seorang individu (subyek) yang bulat, ia dilanda oleh gambaran-gambaran dan
perasaan-perasaaan ajaib, seolah-olah ia diresapi oleh roh-roh dan daya-daya
dari luar. Ia terpesona oleh dunia ajaib, penuh teka-teki tentang kesuburan,
hidup dan mati, pertalian suku. Mau tidak mau ia harus mengakui bahwa sesuatu
berada hingga sampai pada puncaknya yaitu sesuatu itu ada.
Pada tahap mitis ada dua hal yang sangat berlawanan
yaitu mitos religius dan praktek magi. Dalam kehidupan manusia primitive magi
memainkan peranan besar. Dalam, dunia mitos manusia mengaraahkan pandangannya
dari dunia ini kepada dunia yang penuh kekuasaan yang tinggi, dalam magi
manusia bertitik tolak dari dunia penuh kekuasaan. Atau lebih sederhana mitos
lebih mirip dengan pujaan religius sedang magi lebih condong menguasai lewat
beberapa kepandaian. Magi mau menangkis mara bahaya, mempengaruhi daya-daya
kekuatan alam, menguasai orang-orang yang mau membunuh orang lain dengan
menusuk-nusuk gambarnya.
ALAM PIKIRAN ONTOLOGIS
Dalam alam pikiran ontologis, manusia mulai mengambil
jarak terhadap segala sesuatu yang mengitarinya. Ia tidak begitu terkurung
lagi, bahkan kadang ia bertindak sebagai penonton atas hidupnya sendiri. Ia
berusaha memperoleh pengertian mengenai daya-daya kekuatan yang menggerakkan
alam dan manusia. Perkembangan ini pernah disebut sebagai perkembangan dari
”mitos” ke ”logos”. Kata ”logos” mengandung arti sesuatu yang mirip dengan
”logis”. Namun dalam tahap ini memang manusia tidak hanya melulu berpikir
secara logis, tapi emosi dan harapan juga bermain di sini, pun agama dan
keyakinan juga tetap berpengaruh. Sekarang ajaran mengenai dunia mitologis
berubah menjadi metafisika. Refleksi atas kehidupan manusia dengan para pemikir
besar Yunani, sebut saja Aristoteles, Plato, dan dedengkot filsafat yang lain
meramaikan alam pikiran ontologis ini. Pertanyaan yang diajukan dalam alam
pikiran ini adalah tentang dunia transenden, tentang kebebasan manusia,
pengertian mengenai dosa dan kehidupan, eskaton (akhir jaman), dll.
Sebagaimana dalam tahap mitis. Tahap ontologyjuga
memilki beberapa fungsi yaitu membuat suatu peta mengenai segala sesuatu
mengenai manusia. Sikap ontologis berusaha menampakkan dunia transendensi
sehingga dapat dimengerti. Sebagai contoh adalah pembuktian adanya Tuhan. Hal
ini diawali dari pengalaman manusia mengenai daya-daya kekuatan yang
direnungkan dalam alam filsafat. Sikap mitis dan renungan ontologis berhubungan
namun pendekatannya berbeda. Dalam sikap mitis manusia mengambil bagian dalam
daya-daya yang meresapi alam dan manusia sedangkan dalam perenungan ontologis
manusia mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang mengitarinya agar dengan
demikian lewat pengertian dapat dibuktikan adanya sesuatu kekuasaan yang lebih
tinggi.
Fungsi mitos yang kedua adalah jaminan mengenai hari
ini. Proses-proses yang terjadi di alam raya dan dalam hidup menusia mulai
diterangkan dengan bertitik pangkal pada hukum-hukum abadi. Mitos-mitos masih
dipakai, tetapi sekarang lebih sebagai suatu alat atau sarana untuk menerangkan
sesuatu atau menuturkan sesuatu yang sukar diungkapkan dengan cara lain.
Fungsi ketiga dari ontologis adalah menyajikan
pengetahuan. Dalam alam pikiran ontologism yang dipentingkanadalah hakekat
sesuatu apanya, pada tahap ini manusia juga ingin mengakui daya-daya yang
menguasai kehidupan manusia beserta alam raya tetapi lewat jalan memperoleh
pengetahuan dan mengakui apanya.
Manusia berusaha menempatkan diri dalam hubungan baik
dan dalam alam ontologism hubungan tersebut tak lain daripada hubungan yang
masuk akal menurut arti harfiah, akal budi harus mengakui hakekat manusia,
dunia dan dewa-dewa dengan demikian akan menampilkan kebenaran. Tetapi kedua
sikap itu tidak selalu sepi dari kesombongan. Dalam duinia mitis kesombongan
menghasilkan magi, sedang dalamontologism kesombongan menghasilkan
substansialisme.
Substansialisme berasal dari kata substansi yang
berarti sesuatu yang dapat berdiri sendiri yang mempunyai landasan sendiri dan
tidak perelu bersandar atau bergantung pada sesuatu yang berada di luar. Dengan
demikian hubungan makhluk yang satu dengan yang lain dapat diputuskan.
Substansialisme mengadakan isolasi. Memisahkan manusia, barang-barang, dunia
nilai-nilai, Tuhan, dipandang sebagai lingkaran-lingkaran yang berdiri sendiri
lepas antara yang satu dengan yang lain.
Substansialisme merupakan bahaya yang selalu menyergap
alam pikiran ontologism. Nilai-nilai dan konsep-konsep dijadikan
substansi-substansi yang terlepas. Bahkan manusia dijadikan dua substansi yaitu
badan dan jiwa. Masyarakat tak lain daripada suatu penjumlahan
individu-individu. Distansi menjadi keretakan dan masyarakat dijadikan sistem
tertutup yang tak dapat diganggu gugat, entah karena sistem feudal, kapitalis,
atau disiplin partai.
ALAM PIKIRAN FUNGSIONAL
Fungsional dapat dilihat sebagai suatu pembebasan dari
substansialisme. Alam pikiran fungsional menyangkut hubungan, pertautan dan
relasi. Alam pikiran manusia selalu mengandung aspek-aspek fungsionil. Alam
pikiran ini meliputi baik teori maupun praktek, perbuatan etis dan karya
artistik, sektor pekerjaan dan keputusan-keputusan politis. Tetapi di tengah
gejala-gejala nampak adanya sikap dasar dalam alam fungsional yaitu orang
mencari hubungan-hubungan antara semua bidang, arti sebuah kata atau perbuatan
atau barang dipandang menurut peran dan fungsi yang dimainkan dalam keseluruhan
yang saling berhubungan. Dalam alam pikiran fungsionil nampak bagiamana manusia
dan dunia saling menunjukkan, relasi, kebertautan antara yang satu dengan yang
lain.
Ada tiga aspek dalam pikiran fungsionil. Aspek pertama
yaitu bagaiamana manusia ingin memperlihatkan daya-daya kekuatan sekitarnya
aatau menjadikan semuanya itu sesuatu yang dialami. Dalam pikiran refleksi,
kesadaran sosial, kesenian dan religi, manusia berusaha mewujudkannya,
bagaimana sesuatu mempunyai arti atau tidak berarti.
Aspek yang kedua adalah bagaimana memberi dasar kepada
masa kini. Di sini akan terlihat bagaimana manusia dan struktur sosialnya dapat
diberi arti dan dibenarkan. Teknik dan rekreasi, psikoterapi, kesenian, teologi
dan sopan-santun sangat erat hubungannya secara fungsionil, asal bidang-bidang
itu mampu memberi arti kepada situasi-situasi konkrit.
Aspek ketiga yang menyerupai aspek-aspek semacam itu
dalam tahap mitis dan ontologism ialah peran ilmu pengetahuan. Pada tahap
inipun orang ingin menambah pengetahuan.
Jika dalam mitis ada magi, dalam ontologis ada
substansialisme, maka dalam alam fungsionil ada operasional. Gejala operasional
adalah suatu bahaya yang melampaui batas-batas yang merongrong sesuatu.
Operasionalisme selalu membayangi pikiran fungsionil; bagaikan suara hati yang
gelisah. Manusia menjadi terkurung dalam operasi-operasi dan akal-akalnya
sendiri. Sikap fungsionil lebih menunjukkan suatu tanggung jawab daripada suatu
tahap yang telah tercapai.
5. Ada empat metode mengapresiasi seni jelaskan
dan berilah masing-masing contoh penerapannya!
Jawab:
Metode Induktif
Apresiasi dilakukan dengan cara menarik konsep /
kebenaran / keindahan dari pranata yang sifatnya khusus sampai yang bersifat
umum.
Metode Deduktif
Apresiasi dilakukan dengan cara menarik konsep / kebenaran
/ keindahan dari pranata yang sifatnya umum sampai yang bersifat khusus
Metode Empati
Apresiator mengamati seolah- olah larut pada peraasan,
terawa oleh obyek, sehingga dalam komentar-komentarny terdapat ibarat, metafora
yang melebih-lebihkan.
Contoh: Dalam mengapresiasi sastra, seseorang akan
mengalami sebagian kehidupan yang dialami pengarangnya, yang tertuang dalam
karyanya. Ini terjadi karena adanya daya empati yang membuat pembaca terbawa ke
alm suasana dan gerak hati dalam karya itu. Kemampuan menghayati pengalaman
pengarang ini dapat menimbulkan kenikmatan bagi pembaca. Mengapa? Karena
pembaca merasa mampu memahami pengalaman orang lain, juga merasa pengalamannya
bertambah hingga dapat menghadapi kehidupan dengan lebih baik. Pembaca juga merasa
kagum akan kemampuan sasterawan daam memberikan, memadukan, dan memperjelas
makna terhadap pengalaman yang diolahnya, serta mampu menemukan nilai-nilai
estetik karya itu.
Metode Interaktif
Metode ini dilakukan untuk mencari kesepakatan dengan
melalui sarasehan seni.
7. Ceritakanlah salah satu pengalaman anda dalam
mengapresiasikan seni di sekitar anda!
Jawab:
* (ups,, kalau jawaban yang ini,, hm rahasia deh.. haha)
Komentar